Never Heard #Diari090118
#DeleteSoon
Sore ini, lagi-lagi saya
tertampar.
Bingung menjelaskan dalam
bahasa yang bagaimana agar tidak terjadi kesalah pahaman antara penulis dan
pembaca, serta barangkali dengan orang yang terkait (apabila ternyata juga ikut
membaca).
Sedikit bercerita dulu. Pada
dasarnya, saya bukanlah orang yang cakap dalam menyampaikan sesuatu. Kebiasaan saya
yang sedari dulu kerap diam memendam pikiran saya, terbawa hingga dewasa. Perasaan
sedih bahkan tertekan saat kalah telak dalam beradu argumen tentu ada, namun
apa daya, kemampuan bicara saya tidak secakap pikiran-pikiran saya. Dalam hati
berkata apa, yang keluar hanya kata-kata tidak bermutu. Hingga akhirnya, sampai
kini pun, suara saya hanya akan dianggap angin lalu dan tidak lain hanyalah “omong
kosong” atau “ucapan anak 18 tahun yang sok tahu”.
Pada akhirnya, setahun
lalu di kelas 3 SMA, saya bertemu dua teman yang lumayan banyak memberi penilaian dan masukan
terhadap diri saya. Salah satunya adalah ‘Berani untuk Bicara’, tentu mereka
berkata begitu setelah saya menjelaskan salah satu kedala/masalah saya ini. Jawaban
saya pertama kali adalah “Gilak! Kira
gampang apa? Selama ini cuma iya-iya aja terus tiba-tiba ngelawan gitu? Engga ah, tar jadi anak durhaka.” saya
tahu dengan begitu malah akan menimbulkan perdebatan yang semakin runyam. Tapi,
setelah dipikir-pikir, literally
banyak berpikir, ada benarnya juga. Saya hanya akan dianggap anak 17 tahun
(saat itu) yang tidak kunjung dewasa. Masa iya, sampai dewasa saya akan selalu
dianggap salah meski sebenarnya saya benar? Dan, lahirlah diri saya yang mulai
memberontak dan tidak terima asal disalahkan.
Hasilnya? Tentu tidaklah
mulus. Ternyata memberontak justru terkadang memunculkan perasaan kesal yang
tidak jarang mengarah pada benci. Membuat saya bertanya-tanya, apakah semua
orang dewasa menganggap orang yang lebih muda dari mereka bahkan anak mereka
sendiri hanyalah kaleng kosong?
Entah. Mungkin saya baru akan mendapatkan jawabannya saat saya dewasa nanti. Satu
hal yang perlu diingat, ada satu orang yang tidak pernah berani saya debat atau
sekedar beradu kata. Saya yakin kalian semua tahu siapa dia.
Namun, sore ini dalam
ketidak sengajaan, saya tertampar dua kali.
Awalnya hanyalah masalah
kecil, malangnya saya, posisi saya di sini adalah perantara, antara abang
grab-car dengan fulana. Ponsel fulana tertinggal di rumah, sehingga
saya perlu menjadi perantara ketika driver grab menghubungi nomor yang ada di
ponsel tertinggal tersebut. Saya pun menyampaikan apa yang barusan disampaikan
oleh driver kepada fulana. Begitu pula
sebaliknya. Hingga pada akhirnya, sang driver ini menanyakan satu pertanyaan
yang kemudian saya tanya lagi pada fulana.
Jeng.. jeng.. jeng..
Tiba-tiba saya ditelpon fulana dan baru berkata salam, lagi-lagi
saya harus menyabarkan diri saya. Tentu tidak akan saya jelaskan kenapa di
sini, pada intinya saya salah. Saya berusaha
mengoreksi beberapa kata-kata yang saya pikir “Lho, ada apa ini? Saya kan hanya
menyampaikan apa yang disampaikan driver
tadi dan pertanyaan yang ditanyakan dia. Kenapa jadi runyam begini??” tapi,
disela-sela itu saya teringat sesuatu, bahwa kita tidak bisa memberlakukan
suatu hal yang sama kepada semua orang. Hingga akhirnya saya diam dan
mendengarkan hingga selesai dan diminta
menutup telpon. Saya kira sudah selesai, tapi tiba-tiba muncul pesan di
aplikasi whatsapp saya.
Lainkali pakai otak
Gak usah sok tau
Saya diam sejenak, mencoba
menjernihkan pikiran saya dan barulah membalas.
Iya, maaf -----. (panggilan saya kepada fulana, kalau tidak disensor nanti ketahuan siapa hehe)
Intinya, kejadian ini baru
berlangsung beberapa jam yang lalu, yang menurut kalian pasti ‘haelah gini
doang, kirain ada apa kek’ tapi bagi saya, ini sebuah tamparan, di mana
lagi-lagi saya tidak lain hanyalah sebuah anak 18 tahun yang dianggap kosong. Menyampaikan dianggap sok tahu. Diam
dianggap bodoh. Entah kapan stigma ini berhasil saya patahkan, intinya untuk
saat ini lebih baik saya diam dan mulai untuk merombak diri saya menjadi
pribadi yang lebih cerdas dan menjadi orang besar terlepas dari berapa usia
saya. Welcome to my pathetic life!
Komentar
Posting Komentar